Sekolah Tahfizh Plus Khoiru Ummah SMP Bogor

HijrahKU – Hidup Dalam Naungan Al Qur’an

Tarhib Muharram 1440 H - HijrahKU Hidup Dalam Naungan Al Quran

Tarhib Muharram 1440 H - HijrahKU Hidup Dalam Naungan Al Quran

STP Khoiru Ummah SMP Bogor – Akhir-akhir ini, kata hijrah menjadi tren di kalangan masyarakat. Perbincangan tentang hijrah menjadi demikian diminati. Hijrah pun menjadi kata yang familiar di tengah-tengah masyarakat dan menjadi semakin booming berkat cara kerja sosial media yang masif. Puluhan komunitas hijrah pun dibentuk dan tumbuh subur bak jamur.

Tak mau ketinggalan, para produsen dan pedagang pun turut ambil bagian. Pakaian, asesoris hingga buku-buku Islami menghias manis di etalase-etalase toko dan mendapat antusiasme dari pelanggan. Tak pelak, fenomena hijrah menjadi sebuah tren yang mau tak mau disambut seluruh kalangan.

Mengingat Islam selama ini dikebiri tetapi justru mendapat tempat di hati umat, maka hal ini tentu patut disyukuri. Meski demikian, perlu pendampingan, dukungan dan arahan agar benar-benar sesuai syariatNya.

 

Makna Hijrah

Makna dasar dari kata hijrah adalah meninggalkan, menjauhkan diri, dan berpindah tempat. Bisa pula dimaknai sebagai suatu proses perpindahan atau perubahan ke arah yang lebih baik. Maka perpindahan tersebut dapat berupa fisik mau pun non fisik.

Rasulullah SAW telah memberikan contoh berupa hijrah fisik yaitu berpindah kota dari Mekah ke Madinah. Hijrah yang dilakukan Nabi Muhammad SAW ini pun menjadi titik awal Kalender Hijriyah. Khalifah Umar bin Khatab menetapkan bahwa tanggalan umat muslim, yang diberi nama Kalender Hijriyah, akan dimulai dari peristiwa besar yang terjadi dalam hidup Nabi Muhammad SAW tersebut. Menurut Khalifah Umar, hijrahnya Nabi Muhammad SAW dari Mekah ke Madinah bersama sahabat rasul adalah peristiwa paling monumental dalam perkembangan Islam, sehingga patut menjadi dasar dari kalender yang dianut umat muslim.

Melalui peristiwa hijrah inilah, umat Islam akhirnya mampu menjalankan ajaran agamanya dengan sempurna, tanpa terganggu oleh tradisi jahiliyah. Berkaca pada peristiwa hijrah Rasulullah SAW tersebut, fenomena hijrah di masa sekarang juga diartikan perpindahan non fisik yatu berupa perubahan seseorang menuju kondisi yang lebih baik.

 

Hikmah Hijrah

Hal yang patut disyukuri berupa fenomena gelombang hijrah ini sejatinya menunjukkan potensi besar kebangkitan Islam di Indonesia untuk masa depan umat. Maka, sudah seharusnya kita ikut mendukung perubahan positif ini. Apalagi fenomena hijrah ini mampu menjadikan kaum milenial sekali pun bangga dengan identitas keislamannya. Kita tentu akan merasa senang dan bangga ketika melihat semakin banyak umat yang gemar memakmurkan masjid, berjilbab, memadati majelis ilmu dan sibuk menambah hafalan Al-Qur’an. Selain itu, kuat menjalin ukhuwah walaupun berbeda harakah atau mazhab serta tekun mendalami ilmu agama di tengah minimnya pelajaran agama yang mereka dapatkan di sekolah atau kampusnya.

Namun, kita tidak ingin fenomena hijrah ini hanya sekedar menjadi tren semata yang akan hilang seiring berkembangnya jaman, dan berganti dengan tren yang lebih modern. Kita ingin agar kaum milenial tetap istiqomah dalam hijrahnya, sekalipun arus hijrah tidak sederas hari ini. Maka, perlu ada upaya untuk mengawal arus hijrah ini menuju perubahan dan hijrah hakiki sebagaimana hijrahnya Rasulullah SAW. Dibutuhkan keteladanan, keikhlasan, dan kepemimpinan politik Islam yang kuat untuk mengawalnya. Seluruh komponen masyarakat harus bersatu, merapatkan barisan demi membina generasi ini menjadi generasi emas khairu ummah yang akan menjalankan Islam secara totalitas (kaffah). Generasi yang akan membangun peradaban negara yang gemilang di masa mendatang.

 

Hijrah, Hidup dalam Naungan Al-Qur’an

Dalam upaya membentuk generasi emas khairu ummah ini, maka hijrah harus dilakukan secara totalitas. Hijrah secara totalitas adalah dengan cara menjadikan hidup senantiasa berada dalam naungan Al-Qur’an. Menjadikan Al-Qur’an sebagai satu-satunya pedoman dalam hidup.

Ketika seseorang hijrah dengan menjadikan Al-Qur’an sebagai naungan hidup, setidaknya ada tiga hal yang akan ia peroleh dalam hidup.

  1. Kehidupan Menjadi Terarah

Dengan setiap hari membaca Al-Qur’an, maka kehidupan diri dan keluarga akan kian terarah, dari membaca Al-Qur’an kita akan mengetahui mana yang haq dan bathil, benar dan salah. Dan, kemampuan membedakan hal tersebut adalah hal mendasar yang harus dimiliki oleh setiap Muslim. Lebih dari itu, hidup dalam bimbingan Al-Qur’an akan mendorong diri memiliki akhlak,, adab, dan sopan santun dalam kehidupan, sehingga perilakunya benar-benar dijaga agar jangan sampai dirinya menjadi pelaku kezaliman.

Dalam bahasa lebih umumnya, orang yang hidup dalam naungan Al-Qur’an akan terarah hidupnya dan mendapatkan petunjuk dan pembeda dari Allah Ta’ala. Pada akhirnya, hidupnya akan terangkat derajatnya, teratur hidupnya, mulika kepribadiannya dan insya Allah akan sampai pada kebahagiaan hakiki dunia-akhirat.

  1. Memiliki Kemampuan Untuk Mengatasi Berbagai Persoalan Hidup

Hidup adalah medan persoalan. Tidak seorang pun yang hidup di dunia ini melewati 24 jam sepanjang tahun tanpa permasalahan. Orang yang tidak menjadikan Al-Qur’an sebagai naungan akan menghadapi kebingungan dalam menghadapi persoalan hidup, hingga mengalami kekalutan, dan terdorong untuk melakukan tindakan-tindakan yang di luar kendali sampai akhirnya semua mengarah pada kerugian diri dan orng lain, lebih buruk lagi kerugian yang bukan saja di dunia, tetapi juga di akhirat.

Sebaliknya, dengan menjadikan Al-Qur’an sebagai naungan dalam kehidupan, hatinya akan diliputi ketenangan meski kala menghadapi beragam kesulitan dan permaslaahan hidup. Karena ia yakin dengan janji Allah.

 “Barangsiapa bertakwa kepada Allah, niscaya Dia akan membukakan jalan keluar baginya, dan Dia memberinya rezeki dari arah yang tak disangka-sangkanya. Dan, barangsiapa bertakwa kepada Allah, niscaya Dia menjadikan kemudahan baginya dalam urusannya.” (QS. Ath-Thalaq [65]: 2 – 3).

Pada saat yang sama, Al-Qur’an adalah obat dan rahmat. Mustahil orang yang hidupnya dalam naungan Al-Qur’an akan dilanda kebingungan apalagi kekalutan.

“Dan Kami turunkan dari Al Quran suatu yang menjadi penawar dan rahmat bagi orang-orang yang beriman dan Al Quran itu tidaklah menambah kepada orang-orang yang zalim selain kerugian.” (QS. Al-Israa [17]: 82).

 

  1. Hidup Menjadi Kian Bersih

Al-Qur’an mendorong diri untuk selalu melakukan proses pembersihan diri (tazkiyatun nafs), sehingga perilaku buruk seperti riya, hadad, iri hati, sombong terhadap orang lain bisa disingkirkan. Dirinya sadar bahwa perbuatan atau amal yang kotor mengakibat peradaban manusia menjadi sangat rendah, bahkan lebih buruk dari kehidupan binatang ternak. Secara fisi, kekotoran manusia mewujud dalam tingkah laku telah mengakibatkan malapetaka yang tidak ringan.

Di dalam naungan Al-Qur’an, hidup akan menjadi bersih, jiwa terdorong untuk mengutamakan keikhlasan, prasangka baik, tawadhu, jujur, tawakkal dan bergantung hanya kepada Allah. Pikirannya pun menjadi jernih, sehingga yang di kepalanya adalah bagaimana menghasilkan manfaat bagi seluas-luas kehidupan umat manusia dengan dasar iman. Prinsipnya hati yang bersih akan terus mendorong seseorang gemar melakukan amal-amal sholeh.

Semoga kita adalah bagian dari orang-orang yang berhijrah secara totalitas, berhijrah dengan menjadikan hidup dalam naungan Al-Qur’an. Aamiin[]